Pengajian Umum Menyambut Ramadhan

Abu Bakr al-Balkhi berkata:

شهر رجب شهر الزرع، وشهر شعبان شهر سقي الزرع، وشهر رمضان شهر حصاد الزرع

“Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya’ban adalah bulan untuk mengairi, dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen.”

Dia juga berkata:

مثل شهر رجب كالريح، ومثل شعبان مثل الغيم، ومثل رمضان مثل المطر، ومن لم يزرع ويغرس في رجب، ولم يسق في شعبان فكيف يريد أن يحصد في رمضان

“Bulan Rajab seperti angin, Sya’ban bagaikan mendung, dan Ramadhan bagaikan hujan. Siapa yang tidak menanam di bulan Rajab, tidak mengairinya di bulan Sya’ban, janganlah berharap bisa memanennya di bulan Ramadhan.” Baca lebih lanjut

Gambar | Posted on by | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Hukum Organisasi Dan Taat Pada Pimpinan Organisasi

Membuat organisasi untuk tujuan-tujuan kebaikan terutama dalam rangka dakwah dan menolong agama Islam adalah sebuah kebaikan. Namun yang menjadi masalah apakah anggota organisasi wajib taat kepada pimpinan organisasi sebagaimana wajibnya taat kepada pimpinan negara?

Hukum Organisasi

Membuat organisasi adalah perkara muamalah, dan muamalah itu hukum asalnya mubah. Dan tentu saja membuat organisasi untuk dakwah dan menolong Islam adalah bentuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al Maidah: 2)

Para ulama mengatakan bahwa membuat organisasi atau yayasan atau perkumpulan dalam rangka kebaikan adalah hal yang dibolehkan, selama tidak dijadikan sarana tahazzub (fanatik kelompok), dan tidak dijadikan patokan al wala wal bara’ sehingga sesama anggota organisasi dianggap teman dan di luar organisasi dianggap lawan. Syaikh Abul Hasan Al Ma’ribi mengatakan: “Disyariatkannya organisasi, yayasan, atau perkumpulan sosial adalah perkara yang tidak diingkari oleh siapapun. Selama aktifitas organisasi-organisasi tersebut dalam rangka menolong, membelanya dan mendukung al haq. Dengan syarat, anggotanya bebas dari sifat tahazzub (fanatik kelompok) yang tercela, dan dari finah harta, dan hal-hal yang memperburuk dakwah di setiap tempat. Adapun jika aktifitas organisasi ini hanya untuk pencitraan, padahal di balik itu ada perkataan-perkataan menyimpang seperti mencela para ulama bahwa mereka murji’ah atau jahmiyah atau mengatakan bahwa mereka itu bodoh terhadap realita umat, atau organisasi tersebut menggiring umat kepada fitnah terhadap penguasa, lalu mulailah fitnah takfir dan berakhir dengan pembunuhan, penghalalan darah dan pengeboman, atau organisasi yang memerintahkan anggotanya untuk berbaiat sehingga memecah belah kaum muslimin, maka organisasi yang demikian ini semua bukanlah aktifitas dari organisasi yang baik. Dan tidak selayaknya para donatur menyalurkan dana-dana mereka pada organisasi-organisasi yang demikian” (Siraajul Wahhaj Bi Shahihil Minhaj, 99).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menyatakan: “organisasi jika memang sudah banyak tersebar di berbagai negeri Islam dan dibangun dalam rangka memberi bantuan dan dalam rangka saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa antar sesama muslim, tanpa diselipi dengan hawa nafsu, maka ini sebuah kebaikan dan keberkahan. Dan manfaatnya sangat besar. Adapun jika antar organisasi menyesatkan organisasi yang lain dan saling mencela aktifitas organisasi lain, maka ini bahayanya besar dan fatal akibatnya” (Majmu’ Fatawa Mutanawwi’ah 5/202-204, bisa dilihat di http://www.binbaz.org.sa/mat/46).

Dan tidak benar sebagian orang yang menuduh orang yang ikut dalam organisasi Islami telah terjerumus dalam hizbiyah dan bid’ah yang tercela. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani mengatakan: “Organisasi apapun yang dibangun dengan asas Islam yang shahih, yang hukum-hukumnya diambil dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah sesuai dengan apa yang dipahami orang salafus shalih, maka organisasi apapun yang dibangun dengan asas ini tidak ada alasan untuk mengingkarinya. Dan tidak ada alasan untuk menuduhnya dengan hizbiyyah. Karena ini semua termasuk dalam firman Allah Ta’ala: “tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa“. Dan saling tolong-menolong itu adalah tujuan yang syar’i. Dan organisasi ini telah berbeda-beda sarananya dari zaman ke zaman dan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain. Oleh karena itu menuduh organisasi yang memiliki asas demikian dengan tuduhan hizbiyyah atau bid’ah adalah hal yang tidak ada alasan untuk mengatakannya. Karena ini menyelisihi apa yang dinyatakan oleh para ulama dalam membedakan antara bid’ah yang disifati sesat dengan sunnah hasanah” (Silsilah Huda Wan Nuur, no.590, transkrip dari http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=8964).

Oleh karena itu, kita pun melihat para ulama dari zaman ke zaman mereka juga membuat organisasi diantaranya Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Wal Ifta, Hai’ah Kibaril Ulama, Majma’ Fiqhil Islami, dll. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Fiqh | Meninggalkan komentar

Ibu, Delapan Kali Engkau Berdusta Padaku

Kisah ini berawal sejak aku masih kecil. Allah menakdirkan aku terlahir sebagai anak tunggal dari sebuah keluarga yang tergolong sangat miskin. Hari-hari kami lewati sementara kami tidak memiliki makanan yang mencukupi. Jika kami mendapatkan bahan makanan berupa beras sekadar untuk menghilangkan lapar kami, maka ibuku akan segera memberikan jatah nasinya itu kepadaku. Sembari menuangkan nasinya ke piringku, ibuku berkata kepadaku, “Anakku, makanlah nasi ini. Ibu tidak lapar, Nak.”

Inilah dusta pertama ibu padaku.

Ketika usiaku bertambah, setiap kali ibuku menyelesaikan urusan rumah tangga, ia menyempatkan dirinya untuk memancing ikan di sungai sebelah rumah kami. Harapannya hanya satu, agar aku bisa menikmati daging ikan yang kiranya bisa membantu menopang pertumbuhanku.

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya dengan karunia Allah, ibuku berhasil menangkap dua ekor ikan. Dengan hati yang berbunga-bunga, ibu bergegas kembali ke rumah menyiapkan santapan dan segera menghidangkannya di hadapanku.

Aku mulai menikmati daging ikan pertama sedikit demi sedikit, sementara ibuku hanya memakan sisa-sisa daging ikan yang masih menempel pada tulang-tulang dan duri-duri ikan tersebut. Hatiku terenyuh dibuatnya. Aku segera meletakkan seekor ikan lain yang masih utuh di hadapannya agar ia pun bisa menikmatinya. Tapi dengan spontan ibuku mengembalikannya dan meletakkannya kembali di hadapanku, seraya berkata, “Anakku, ikan ini buatmu juga. Bukankah engkau tahu bahwa ibu tidak suka ikan?”

Ibu, inilah dustamu padaku yang kedua kalinya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Kisah | Meninggalkan komentar

Hukum Meninggalkan Shalat

Shalat adalah salah satu rukun Islam yang terpenting setelah syahadatain. Shalat juga
mengandung pengakuan rububiyah Allah subhanahu wa ta’ala dan ketundukan kepada-Nya. Demikian pula perbuatan-perbuatan dalam shalat, seperti berdiri, ruku’ dan sujud, keseluruhannya menunjukkan kepatuhan seorang hamba kepada penciptanya, sekaligus merupakan latihan jiwa dan penundukan diri dari kesombongan dan sifat egois, selanjutnya siap menerima dan melaksanakan perintah-perintah Ilahiyah.

Shalat adalah salah satu ibadah yang di-fardhu-kan (diwajibkan) kepada setiap individu
muslim yang telah baligh dan berakal. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan dirikanlah shalat dan keluarkanlah zakat dan ruku’-lah bersama dengan orang-orang yang ruku’.” (QS. al-Baqarah: 43)

Dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadits yang mengandung perintah mendirikan shalat cukup
banyak, bahkan shalat terkadang disebut sebagai ciri atau tanda orang-orang beriman
sebagaimana firman-Nya:

“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. al-Anfal: 3)

Dan terkadang juga disebut sebagai tanda orang-orang yang bertaqwa sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugrahkan kepada mereka.” (QS. al-Baqarah: 3)

Nash-nash tersebut sebenarnya sudah cukup untuk menjadi bahan renungan dan peringatan bagi kaum muslimin, agar senantiasa menjaga shalat, dan tidak melalaikannya. Akan tetapi, bila kita mengamati realita umat Islam di zaman ini, sungguh sangat memperihatinkan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Dakwah, Fiqh | Meninggalkan komentar

Hanya Satu Nyawa

Generasi Salaf adalah generasi yang luar biasa. Dunia ini tak akan pernah lagi merasakan dan menyaksikan sebuah generasi seperti itu. Hanya sekali saja. Benar, hanya sekali saja ia ditakdirkan menjadi panggung kehidupan sekaligus saksi sejarah untuk sebuah generasi bernama as-Salaf ash-Shalih itu. Sebagaimana ungkapan para ulama, generasi ini dengan manhaj yang menjadi jalan serta pegangan hidupnya telah menyatukan tiga sifat yang tak mungkin terpisahkan satu dengan lainnya. Manhaj Salaf itu a’lamahkamdan aslam.

Manhaj Salaf itu a’lam atau paling sesuai dan penuh dengan ilmu, karena seluruh ilmu Islam berasal dari mata air Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam yang mengalir melalui anak-anak sungai para Salaf. Jangan pernah mengatakan engkau lebih tahu dari mereka tentang agama ini.

Manhaj Salaf itu ahkam atau paling penuh hikmah, karena hikmah hanya akan lahir dan mengalir dari mata air ilmu yang shahih. Hikmah yang sesungguhnya adalah hikmah yang mengalir dari al-Quran dan as-Sunnah.

Manhaj Salaf itu aslam atau paling menyelamatkan, karena mungkinkah seorang selamat di dunia dan akhirat jika ia tidak meniti jalan kebenaran? Dan mungkinkah kita meniti jalan kebenaran jika kita tidak menapaki jejak generasi Salaf? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Manhaj, Motivasi | Meninggalkan komentar

Info: Pengajian Umum “Indahnya Islam”

Poster Pengajian Umum - Indahnya Islam

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

Prinsip-prinsip Penting dalam Mendalami Islam

Siapapun yang memiliki perhatian terhadap Islam di zaman ini tentu akan sedikit banyak cukup disejukkan hatinya dengan pemandangan yang menunjukkan semakin maraknya kaum muda yang kembali ke naungan cahaya hidayah Allah subhanahu wa ta’ala. Betapa tidak, setelah sekian lama bahkan hingga kini pun kaum Muslimin tenggelam dalam kelalaian yang berkepanjangan terhadap misi dan kepribadian mereka yang sejati, baru kali inilah terjadi sebuah “booming” kesadaran yang dapat dikatakan merata hampir ke seluruh pelosok negeri bahkan penjuru dunia. Hingga seperti kata sebagian orang, banyak perguruan-perguruan tinggi terkemuka di berbagai tempat, berubah menjadi “pondok-pondok pesantren” yang seringkali lebih religius dan lebih terasa kekuatan dakwahnya dibanding sejumlah pondok pesantren yang memang didirikan dengan nama pondok pesantren.

Kita pun mencium aroma semangat berislam yang begitu semerbak dari para pemuda dan pemudi itu. Semangat yang membara ditambah perasaan yang tersimpan dalam jiwa-jiwa bersih mereka mengapa baru sekarang belajar Islam, membuat mereka “berburu” Islam dari sumber manapun yang mereka anggap paling mengetahui ad-Dien ini. Hanya saja “perburuan” itu sering sekali salah jalan dan tersesat. Seringkali semangat mereka yang tulus itu berakhir pada kesesatan pemahaman atau setidak-tidaknya kesalahpahaman terhadap Islam. Ingat! Banyak di antara mereka yanga mengorbankan segala sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, entah itu karir, posisi, prestasi, bahkan pada tingkat yang “ekstrim” banyak yang “kehilangan” orang tua kandung mereka sendiri karena kelompok kajiannya mengajarkan untuk melakukan hal itu, yang mana hal tersebut hanya akan berakhir pada ujung lorong yang gelap dan tidak bercahaya.

Cara dan metode untuk memahami Islam itu sangat penting. Itulah sebabnya, salah satu prinsip terpenting dalam Islam adalah “al-Ghaayah laa tubarrir al-Washiilah (tujuan itu tidak menyebabkan kita menghalalkan segala cara)”. Begitu pula dalam memahami Islam, cara dan metode untuk sampai ke sana tidaklah kemudian menyebabkan kita boleh mengambil Islam dari orang-orang yang sesat pemikirannya walaupun sebagian orang memanggilnya dengan sebutan “ustadz” atau koran dan majalah menyebutnya sebagai “cendekiawan Muslim terkemuka.”

Agar semangat yang tulus itu tidak menjadi korban yang sia-sia dalam pencariannya terhadap kebenaran, berikut beberapa prinsip yang penting dalam mendalami dan mempelajari Islam. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Manhaj | Meninggalkan komentar